| Pahlawan Kepemimpinan Muda Indonesia |
Di tv swasta semalam tersebut, salah seorang pakar motivasi Indonesia Mario Teguh mengatakan bahwa setiap dari kita adalah pahlawan. Seorang pahlawan bukanlah yang selalu yang berada pada posisi paling depan dimedan pertempuran dan tewas duluan. Dia dapat berada dimanapun, kapanpun, serta dalam kondisi apapun. Jadi artinya kita semua tanpa terkecuali mampu untuk menjadi pahlawan dilingkungan dimana kita bertempat tinggal.
Eko Patrio sebagai produser sekaligus merangkap host pada acaranya di TPI ini yang alhamdulillah dengan kecerdasan khasnya, mampu mendongkrak nama serta partainya sehingga mampu muncul menjadi calon legislatif 2009 yang paling diinginkan kedua terbesar setelah Agung Laksono yang memang sampai hari ini adalah Ketua DPR RI. Alhamdulillahnya, posisi ketiga diraih oleh saya sendiri Marissa Haque Fawzi. Insya Allah, ini merupakan sumbangan terbesar pertama dari saya sebagai seorang kader baru bagi partai kedua yang baru saya masuki dalam setahun belakangan ini. Dari 21 buah nama yang pop-up (muncul), ternyata tersebut 10 buah nama yang berasal dari kelompok selebriti (disebut: artis) Indonesia.
Jagad perpolitikan nasional tercengang, sebagian besar masyarakat elit dan intelektual protes keras. Sebagian positif, namun tak kurang yang negatif.
Hanya satu-dua komentar yang muncul dimedia yang memberikan dukungan positif atas kehadiran entitas ‘alien’ kami ini. Salah satu dari komentar manis tersebut datang dari Dr. Andi Malarangeng salah seorang staf khusus / jubir Presiden RI. Ia mengatakan bahwa adalah hak para selebriti untuk hadir menjadi politisi, karena memang peluang terbuka bagi siapapun yang mampu dan memenuhi syarat.
Ya benar, saya setuju dan memberikan apresiasi tinggi atas komentar positif tersebut. Karena sejujurnya, bahwa sang Presiden RI pun belakangan ini memasuki wilayah ruang selebritas di beberapa infotainment Indonesia.
Aha! Entah siapa konsultan medianya, karena yang jelas memang – diluar tugas konstitusional kenegaraan – langkah Presiden memasuki wilayah ‘remeh-temeh’ tersebut berdampak positif atas pelurusan berita gossip yang sempat menerpa sang Presiden. Semisal kelahiran cucu pertamanya yang dianggap diapkasakan melalui operasi secsio demi mengejar bersamaan dengan HUT proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Tiba-tiba tangan saya tanpa sengaja membuka sebuah sms yang sengaja saya simpan untuk tetap menjaga ‘bara’ jihad perjuangan menjujurkan keadilan dan membingkai politik dengan hukum diranah Banten ini. Kiriman seorang wartawan perempuan yunior yang pernah saya kagumi kecerdasannya, lulusan sebuah univeritas bergengsi di Provinsi Jawa Timur. Saya memang mengirimkan lebih dulu sebuah sms undangan untuk hadir pada sidang pembuktian kasus ‘dugaan’ ijazah palsu Gubernur Banten disaat mengikuti Pilkada Banten 2006 yang lalu di PN Tangerang, Banten.
Namun jawaban yang saya peroleh sangat mengagetkan karena sangat ketus dan menurut saya yang memiliki banyak sahabat para wartawan Kompas grup yang lebih senior, masya Allah… kurang bebudaya. Untungnya saya telah melaui perjuangan selama hampir 2 (dua) tahun dan telah melalui berbagai asam-manis-pahit perlakuan diskriminatif dari oknum media. Dan saya berhasil membeuktikan kebenaran dari teori media massa The Framing Analysis yang mengatakan bahwa didalam era indutri media seperti sekrang ini, tidak ada media yang benar-benar seputih kapas. Semua media membawa misi dan visi sang pemilik/pemodal dibelakangnya. Semua menuju satu arah, yaitu growth only. Dalam koridor teori ekonomi pembangunan artinya adalah mengejar keuntungan setingi-tingginya, dan sebagian dari pelaku industi media terperosok dalam jebakan economic drive ini sehingga melupakan idealisme media sesungguhnya.
Innalillahi… Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, sejujurnya sebagai manusia perempuan biasa saya sangat sedih atas dua kata dia yang terakhir, yaitu “sudah” dan “kalah.” Jawaban saya untuk dia semoga tidak mengecewakan almarhum ayah dan ibuku adalah sebagai berikut: “Hi mbak ‘…’ Bagi saya kekalahan itu hanyalah pernyataan didalam pikiran kita, tidak lebih. Terimakasih banyak atas balasan smsnya, namun tidak akan mempengaruhi jihad saya didalam menjujurkan keadilan dan membingkai politik dengan hukum. Kegagalan hanyalah kemenangan yang tertunda. Juga menang adalah kemampuan mengalahkan diri sendiri. Saya akan tetap apa adanya dengan perjuangan saya ini, karena saya yakin Allah SWT selalu bersama langkah kanan saya – being blessed by God the Almighty, Allah SWT. Bismillaaaah… Salam kasih, Marissa.” Demikian kurang lebih isi sms saya dengan upaya nada bersahabat dan tidak ingin terpancing emosi.
Namun setelahnya lalu muncul didalam benak saya sebuah pertanyaan selanjutnya yaitu: “Apakah saya ingin dikatakan pahlawan dengan perjuangan melelahkan di Propinsi Banten ini?”
Masya Allah… hari ini dan seterusnya kedepan, saya harus meyakinkan diri saya sendiri, bahwa sebagai menantunya wong Banten saya hanya melakukannya hanya karena Allah SWT semata, untuk menjadi Kekasih-Nya. Tidak lebih dan tidak kurang, insya Allah demikian sejujurnya saya ungkapkan.
Allahu Akbar, merdeka!
Oleh: Dr. Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum.





Users' Comments (0) |
|
|
No comment posted